Oleh : Fajrin Sidek
Sejak berdirinya Hima Persis tahun 1996, gagasan intelektual
menjadi dasar gerak organisasi ini. Begitupun Hima Persis pada konteks dewasa
ini yang tetap konsisten dalam mewarnai perkembangan intelektual. Sebagai
organisasi kemahasiswaan, Hima Persis syarat akan nilai keilmuan, dinamika dan
perlawanan terhadap kesewenangan. Sehingga, Hima Persis kemudian tampil dalam
gagasan-gagasannya yang ilmiah, progresif dan revolusioner yang berarti
pergerakan berdasarkan keilmuan (objektif, rasional, kritis), Progresif (pergerakan
yang dinamis dan inklusif), dan Revolusioner (anti-tirani dan
berkeadilan).
Konsepsi tentang arah perjuangan Hima Persis ini menjadi pondasi
Ideologis yang cukup mapan dalam langkah pengembangan organisasi Hima Persis.
Selain itu, ide pembaharuan Islam melalui gagasan A. Hasan juga merupakan
keharusan sebagai bagian dari dakwah Hima Persis. Namun, sejalan dengan
aktivitas Mahasiswa yang tidak hanya mencakup persoalan pembaharuan keagamaan
Islam, mahasiswa pun dituntut untuk turut aktif terkait dengan pemecahan
permasalahan sosial, politik, dan hukum di Indonesia atau dengan kata lain
turut serta dalam memberikan solusi atas permasalahan bangsa.
Peranan para aktivis Hima Persis dalam membangun masa depan Islam
juga harus selaras dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Sebagaimana dalam
sejarah Islam Indonesia dan kemerdekaan negara Indonesia yang tidak lepas dari
kontribusi kaum Muslim dalam mengusir dan melawan kolonialisme bangsa barat.
Begitupun kerja berat para aktivis atau punggawa Hima Persis yang seharusnya
juga lantang serta gigih menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Berbagai persoalan sosial contohnya yang terjadi di negeri ini bukan
hanya perkejaan pemerintah saja, melainkan adalah usaha bersama rakyat
Indonesia diantaranya beberapa masyarakat yang memiliki kualitas dan ukuran
tertentu termasuk mahasiswa yang dipandang perlu dalam memberikan contoh dan
pemahaman terhadap rakyat yang tergolong lemah (mustadhafin), dalam
mengatasi permasalaham bersama.
Problem terhadap kelas yang tergolong lemah itulah kemudian menjadi
objek aktivis Hima Persis dalam mengamalkan visi progresitifitas sekaligus
revolusioner dalam perubahan masyarakat yang lebih baik. Maka, selain berpedoman
terhadap al-Qur’an dan Sunnah rasulullah dalam pemurnian ajarannya juga
sekaligus tetap konsisten dalam membaca situasi pluralitas masyarakat yang
tidak memandang suku, agama, ras bahkan mazhab tertentu dalam Islam. Sehingga,
pengamalan Islam sebagai ajaran rahmatan lil alamin dapat diterima oleh
rakyat Indonesia sehingga menghilangkan islamicphobia bagi beberapa
orang tertentu.
Dengan demikian, Hima Persis tidak hanya di pandang oleh jamaah
dalam lingkungan organisasi Persatuan Islam, melainkan Hima Persis akan menjadi
organisasi mahasiswa yang berperan aktif dalam membangun masa depan bangsa
Indonesia dan juga Hima Persis akan dikenal dikalangan masyarakat luas.
Muhammad Natsir salah satu figure yang harus dan patut kita contoh,
selain sebagai pemikir Islam yang kompeten juga disisi lain merupakan tokoh
politik bangsa Indonesia yang selalu aktif berkontribusi dalam
permasalahan-permasalahan kenegaraan. Sehingga, pada dewasa ini M. Natsir
merupakan tokoh yang sangat di hormati di seluruh kalangan yang tentunya di seluruh
masyarakat Indonesia.
Contoh atas figure Natsir ini yang sangat dinantikan kehadirannya
oleh para aktivis Hima Persis. Apalagi dalam melihat konflik yang terjadi di
negri ini dari mulai konflik sosial dan politik. Maka dari itu, diperlukan term
yang cocok bagi aktivis sekarang terutama Hima Persis yang selain sebagai
intelektual sejati juga merupakan aktor-praktis yang selalu menaruh perhatiannya
kepada pemerintah. Dawam Rahardjo
menyebutnya sebagai kaum intelegensia, yang memilki kekuatan intelektual
sekaligus berperan aktif di daerah sosial dan politik.
Konstruksi Intelektual seperti di jelaskan Ali Syariati, tidak
hanya bermodal wawasan saja melainkan sadar akan status humanistisnya, artinya
kehadiran intelektual juga bukan hanya fokus pada daerah keilmuan, namun aktif
dalam membela kaum tertindas, baik secara sosial maupun ekonomi. Kaum tertindas
inilah juga yang merupakan sasaran atau objek perjuangan Hima Persis yang
selaras juga dengan perjuangan Nabi Muhammad Saw, yang membela kaum tertindas
tanpa memandang agama, suku dan ras.
Terutama jika melihat kemajemukan bangsa Indonesia yang tidak
semuanya menganut ajaran agama Islam, walaupun mayoritas penduduk bangsa ini
menganut ajaran Islam, akan tetapi tidak semuanya juga yang memahami betul konsepsi
ajaran Islam. Artinya, pendekatan sosial di perlukan disini dalam membangun
kesejahteraan dengan sumber ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu dengan
tidak membedakan beragam golongan, terlebih membedakan kaum tertindas yang mestinya
kita bela.
Oleh
karena itu, sebagai aktivis Islam (Hima Persis) yang benar adalah dengan
hidup yang benar yaitu pertama-tama dengan sikap berkepercayaan yang benar pula
dan bersamaan juga dengan intelektualitas yang tinggi (ilmiah), kemudian
berjuang (Jihad) dengan sikap iman dan intelektual lalu melakukan
pergerakan dengan keterbukaan dan dinamis (progresif) atas kemajuan
peradaban dan selalu bergerak menuju perubahan-perubahan yang solutif dalam
masyarakat serta berjuang melawan kedzaliman atau tiranik yang melemahkan
masyarakat (revolusioner).


No comments:
Post a Comment