Dalam hitungan bangunan, di tempat yang tiga kali lebih dekat
dengan langit, mencoba melebihi tengadah melati. bukan berarti hendak hengkang dari bumi. Tapi
alasanya sudah terlanjur, gugusan langit yang sudah larut dalam segelas kopi.
Dari sejak malam masih muda atau bahkan sebelumnya, alam semesta menjadi buah
bibir yang menghasilkan buah pemikiran dari detik ke detiknya, bersamaan dengan
kesadaran yang memercikan api disulut dari batang rokok ke batang argumentasi.
Sebuah ritus penyambutan kepada sang kekasih yang tak biasa, namun
berusaha dibiasakan. Dengan tidak membinasakan yang sudah sangat biasa, demi
terjaganya berfikir yang berkeadilan. karena sesungguhnya sang kekasih bulan ramadhan
adalah bulan tarbiyah bagi mereka yang mendefinisikanya demikian, atau apapun
sesuai harapan dan kualitas menerjemahkahkan arti ramadhan. Maka dia akan
mendapatkan apa yang dia pikirkan itu, maksudnya, ramadhan akan menjadi wujud
apapun seseuai dengan pikirannya. Sebatas menahan dahaga dan lapar, sebagai
momentum bisnis yang menjanjikan, sebagai masa pelatihan layaknya camp bagi
prajurit atau hanya sebatas riyak riyak asyikk nya ngabuburit menjelang
berbuka, Ramadhan terlihat begitu elastis. Dia bisa menjadi apapun yang manusia
pikirkan. Layaknya anjing dalam kandang kandang pemikiran yang berbeda. Kandang
emas akan mengartikan anjing yang mahal dan berkualitas, kandang perak
memperkenalkan anjing yang bukan biasa biasa, kandang besi, kandang awi dan
kandang kandang lain seterusnya yang berpotensi memberikan makna terhadap
anjing yang pasti beragam. Jangan sentimen dulu, anjing bukanlah kata kata
kasar, bahkan adalah kalimat yang sopan dan arif selagi kita punya kandang
berfikir emas dalam mendefinisikannya. Cara berfikir paradoksial, tepatnya.
Dasar manusia adalah pemikiranya, karena berfikir adalah akar dari
tumbuhnya dahan dahan niat dan batang batang ambisi, setelah daun tumbuh lagi
hijau, jatuhlah Buah buahan yang manis, sehingga menjadi amal yang sejak awal
tumbuhnya akan mengangkat harkat manusia dimata Tuhan. Dalam Asas Revmekel,
berfikir adalah adalah raison d'etre (alasan harus ada) bagi wujud segala yang
ada, termasuk revmekel itu sendiri. Maka jangan heran, sekalipun kami orang
baik, baik sekali atau sesekali, kami mengusung kapitalisme intelektual sebagai
sebuah proses dalam memperbesar nilai dan grad berfikir dari hari ke hari, tapi
tenang saja Kapitalisme kami berdasarkan syariat yang syar'i dan logika yang
penuh dengan logistik humanis, jadi sangat sukar diyakini jika akan ada kaum
intelektual yang termarjinalkan, karna kapital kami hanya sebagai proses dalam
alam paling ideal yaitu alam ide. Alam pikiran. Jika dalam pertarungan, jelas
kami sangat suka dalam ring egaliterisme.
Satu lirik yang menarik dan kemudian menjadi stimulan kita
berfikir. Ihwal istilah "ramadhan tiba" dan "tiba-tiba ramadhan". Ramadhan
tiba, terlukis wajah penuh seri dalam penyambutan. mempunyai notasi kegembiraan
menyambut datangnya ramadhan, seolah "Aing siap, idul fitri" berimbas
kepada komposisi tindakan, meramu pemikiran yang ada melahirkan kesiapan jiwa
untuk dibersihkan dari jiwa-jiwa yang palsu. Meskipun istilah "tiba-tiba
ramadhan" mempunyai notasi yang
sama. Sama-sama kaget, namun kagetnya kaget kepalang, kaget ketidaksiapan
meninggalkan bulan-bulan sebelum ramadhan. Imbasnya, penyambutan ramadhan
sangat tidak begitu menggairahkan, sekalipun ada gairah paling gairah formal
alih-alih mendekontruksi jiwanya dan merekontruk nya lagi, yang ada hanya kaget
yang tidak menggetarkan hati.
Tradisi revmekel yang mengajarkan berlaku adil sejak dalam pikiran
berusaha memberikan suatu asumsi dibalik penyambutan ramadhan di masyarakat
seolah disambut dengan yel yel "tiba-tiba ramadhan".
Pertama, Kita kenal suatu istilah yang
namanya simulakra, sebuah fenomena di mana manusia sudah sukar membedakan mana
realitas dan mana simulasi.
Perkembangan teknologi memaksa manusia menjadi simulator, yang
lebih senang hidup dalam sebuah mimpi atau simulasi yang dikemas dengan alat
alat teknologi. Padahal jelas, alat tersebut dibuat untuk dapat mempermudah
proses manusia dalam Memenuhi hajatnya saja, tidak lebih. Kenapa hari ini,
seolah kita menjadi alat dari alat yang kita buat. Akibatnya, apapun yang
terjadi dalam realitas, bulan ramadhan itu sekalipun. Nyatanya, dunia maya yang
bebas dan “menuhan” itu lebih asyik dan terasa lebih realistis dibanding bulan
ramadhan yang mesti menjadi budak yang diatur prinsip kehambaan.
Kedua, bagaimana mungkin suatu masyarakat
korban banjir akan menyambut pemain sepak bola yang kesohornya luar biasa.
Padahal masyarakat tahu, ia terkenal. Tapi pada saat yang duka tersebut,
sayangnya pemain bola bukan lah sosok yang diharapkan kedatangannya oleh
masyarakat korban banjir, tapi ketika ada relawan kesehatan yang datang, luar
biasa antusias yang diberikan. Jadi benar,
terkadang sesuatu itu bisa direkayasa untuk menjadi penting dan atau
tidak, tergantung kondisi kejiwaan
masyarakat, kebutuhan personal dan komunalnya. Jadi, giringlah kesan masyarakat
maka kita bisa melahirkan orang penting dengan sangat mudah. contohnya bisa
lebih banyak lagi, yang jelas telah terjadi split personality (pecah
kejiwaan) dimasyarakat kita hari ini,
barangkali sudah dimafhumi kondisi politik di negeri kita. Berawal dari
memposisikan politik sebagai tujuan, bukan sebagai alat, Imbasnya politik menjadi
mahal dalam kejujuran dan keadilanya. Terlalu murah jika demikian, karna ini
adalah tujuan. Manusia pada dasarnya adalah mahluk peniru, sebagaimana menurut
teori klasik behaviorsme. Tergambar jelas diwajah masyarakat hari ini, panutan
dalam informasi adalah media. Disadari atau tidak, ada semacam obesitas terjadi
dalam pikiran, obesitas informasi. Bagaimana tidak, disamping sumber informasi
yang sudah lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri, media sebagai industri
mempunyai peran mempengaruhi opini dan cara pandang.
Mengerikan nya lagi, informasi hari ini adalah barang dagangan,
jadi siapa yang punya informasi yang asyik dan menarik, dia lah yang paling
eksis. Bukan lagi kebenaran dan keadilan yang jadi patokan. Apalagai
kebermanfaatan. Sangat tidak membuat untung industri!! Tapi rating dan bisnis menjadi prinsipnya.
Maka wajar saja informasi media hari sama sekali tidak mengedukasi sebagaimana
seharusnya, tapi malah membuat bingung, bingung yang tak produktif, bingung
yang hanya menjadi benih skeptis dan apatis. Jadi puncak kebingungan adalah
tidak terlalu berekspresi dalam menyambut apapun, barangkali itu penyebab
kenapa ramadhan hari ini tidak begitu menarik bagi masyarakat kita. Ya.. kalo
bicara kualitas spiritual masyarakat, langsung beres lah. Revmekel mencoba
melihat persoalan dengan mengendarai helikopter view, melihat dari arah atas.
Tanpa penghalang gedung gedung priomordial dan batas tutorial pemikiran, demi
kapitalisme intelektual, nilai dan grad berfikir harus semakin besar. Sekalipun
harus berperang dengan musuh kapital, yakni komunisme intelektual yang masih
mendambakan kesama rasa dan rataan dalam
berfikir.
Penulis: Riyan Hidayatulloh
Ditulis di SMC Singaparna.
Gayung kecil, merauk air lautan, hanya sedikit yang didapat.
No comments:
Post a Comment