Ramadhan tiba, tiba-tiba Ramadhan - Hima Persis Kota Bandung
Ramadhan tiba, tiba-tiba Ramadhan

Ramadhan tiba, tiba-tiba Ramadhan

Share This

Dalam hitungan bangunan, di tempat yang tiga kali lebih dekat dengan langit, mencoba melebihi tengadah melati.  bukan berarti hendak hengkang dari bumi. Tapi alasanya sudah terlanjur, gugusan langit yang sudah larut dalam segelas kopi. Dari sejak malam masih muda atau bahkan sebelumnya, alam semesta menjadi buah bibir yang menghasilkan buah pemikiran dari detik ke detiknya, bersamaan dengan kesadaran yang memercikan api disulut dari batang rokok ke batang argumentasi.
Sebuah ritus penyambutan kepada sang kekasih yang tak biasa, namun berusaha dibiasakan. Dengan tidak membinasakan yang sudah sangat biasa, demi terjaganya berfikir yang berkeadilan. karena sesungguhnya sang kekasih bulan ramadhan adalah bulan tarbiyah bagi mereka yang mendefinisikanya demikian, atau apapun sesuai harapan dan kualitas menerjemahkahkan arti ramadhan. Maka dia akan mendapatkan apa yang dia pikirkan itu, maksudnya, ramadhan akan menjadi wujud apapun seseuai dengan pikirannya. Sebatas menahan dahaga dan lapar, sebagai momentum bisnis yang menjanjikan, sebagai masa pelatihan layaknya camp bagi prajurit atau hanya sebatas riyak riyak asyikk nya ngabuburit menjelang berbuka, Ramadhan terlihat begitu elastis. Dia bisa menjadi apapun yang manusia pikirkan. Layaknya anjing dalam kandang kandang pemikiran yang berbeda. Kandang emas akan mengartikan anjing yang mahal dan berkualitas, kandang perak memperkenalkan anjing yang bukan biasa biasa, kandang besi, kandang awi dan kandang kandang lain seterusnya yang berpotensi memberikan makna terhadap anjing yang pasti beragam. Jangan sentimen dulu, anjing bukanlah kata kata kasar, bahkan adalah kalimat yang sopan dan arif selagi kita punya kandang berfikir emas dalam mendefinisikannya. Cara berfikir paradoksial, tepatnya.
Dasar manusia adalah pemikiranya, karena berfikir adalah akar dari tumbuhnya dahan dahan niat dan batang batang ambisi, setelah daun tumbuh lagi hijau, jatuhlah Buah buahan yang manis, sehingga menjadi amal yang sejak awal tumbuhnya akan mengangkat harkat manusia dimata Tuhan. Dalam Asas Revmekel, berfikir adalah adalah raison d'etre (alasan harus ada) bagi wujud segala yang ada, termasuk revmekel itu sendiri. Maka jangan heran, sekalipun kami orang baik, baik sekali atau sesekali, kami mengusung kapitalisme intelektual sebagai sebuah proses dalam memperbesar nilai dan grad berfikir dari hari ke hari, tapi tenang saja Kapitalisme kami berdasarkan syariat yang syar'i dan logika yang penuh dengan logistik humanis, jadi sangat sukar diyakini jika akan ada kaum intelektual yang termarjinalkan, karna kapital kami hanya sebagai proses dalam alam paling ideal yaitu alam ide. Alam pikiran. Jika dalam pertarungan, jelas kami sangat suka dalam ring egaliterisme.
Satu lirik yang menarik dan kemudian menjadi stimulan kita berfikir. Ihwal istilah "ramadhan tiba"  dan "tiba-tiba ramadhan". Ramadhan tiba, terlukis wajah penuh seri dalam penyambutan. mempunyai notasi kegembiraan menyambut datangnya ramadhan, seolah "Aing siap, idul fitri" berimbas kepada komposisi tindakan, meramu pemikiran yang ada melahirkan kesiapan jiwa untuk dibersihkan dari jiwa-jiwa yang palsu. Meskipun istilah "tiba-tiba ramadhan"  mempunyai notasi yang sama. Sama-sama kaget, namun kagetnya kaget kepalang, kaget ketidaksiapan meninggalkan bulan-bulan sebelum ramadhan. Imbasnya, penyambutan ramadhan sangat tidak begitu menggairahkan, sekalipun ada gairah paling gairah formal alih-alih mendekontruksi jiwanya dan merekontruk nya lagi, yang ada hanya kaget yang tidak menggetarkan hati.
Tradisi revmekel yang mengajarkan berlaku adil sejak dalam pikiran berusaha memberikan suatu asumsi dibalik penyambutan ramadhan di masyarakat seolah disambut dengan yel yel "tiba-tiba ramadhan".
Pertama, Kita kenal suatu istilah yang namanya simulakra, sebuah fenomena di mana manusia sudah sukar membedakan mana realitas dan mana simulasi.
Perkembangan teknologi memaksa manusia menjadi simulator, yang lebih senang hidup dalam sebuah mimpi atau simulasi yang dikemas dengan alat alat teknologi. Padahal jelas, alat tersebut dibuat untuk dapat mempermudah proses manusia dalam Memenuhi hajatnya saja, tidak lebih. Kenapa hari ini, seolah kita menjadi alat dari alat yang kita buat. Akibatnya, apapun yang terjadi dalam realitas, bulan ramadhan itu sekalipun. Nyatanya, dunia maya yang bebas dan “menuhan” itu lebih asyik dan terasa lebih realistis dibanding bulan ramadhan yang mesti menjadi budak yang diatur prinsip kehambaan.
Kedua, bagaimana mungkin suatu masyarakat korban banjir akan menyambut pemain sepak bola yang kesohornya luar biasa. Padahal masyarakat tahu, ia terkenal. Tapi pada saat yang duka tersebut, sayangnya pemain bola bukan lah sosok yang diharapkan kedatangannya oleh masyarakat korban banjir, tapi ketika ada relawan kesehatan yang datang, luar biasa antusias yang diberikan. Jadi benar,  terkadang sesuatu itu bisa direkayasa untuk menjadi penting dan atau tidak, tergantung  kondisi kejiwaan masyarakat, kebutuhan personal dan komunalnya. Jadi, giringlah kesan masyarakat maka kita bisa melahirkan orang penting dengan sangat mudah. contohnya bisa lebih banyak lagi, yang jelas telah terjadi split personality (pecah kejiwaan)  dimasyarakat kita hari ini, barangkali sudah dimafhumi kondisi politik di negeri kita. Berawal dari memposisikan politik sebagai tujuan, bukan sebagai alat, Imbasnya politik menjadi mahal dalam kejujuran dan keadilanya. Terlalu murah jika demikian, karna ini adalah tujuan. Manusia pada dasarnya adalah mahluk peniru, sebagaimana menurut teori klasik behaviorsme. Tergambar jelas diwajah masyarakat hari ini, panutan dalam informasi adalah media. Disadari atau tidak, ada semacam obesitas terjadi dalam pikiran, obesitas informasi. Bagaimana tidak, disamping sumber informasi yang sudah lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri, media sebagai industri mempunyai peran mempengaruhi opini dan cara pandang.
Mengerikan nya lagi, informasi hari ini adalah barang dagangan, jadi siapa yang punya informasi yang asyik dan menarik, dia lah yang paling eksis. Bukan lagi kebenaran dan keadilan yang jadi patokan. Apalagai kebermanfaatan. Sangat tidak membuat untung industri!!  Tapi rating dan bisnis menjadi prinsipnya. Maka wajar saja informasi media hari sama sekali tidak mengedukasi sebagaimana seharusnya, tapi malah membuat bingung, bingung yang tak produktif, bingung yang hanya menjadi benih skeptis dan apatis. Jadi puncak kebingungan adalah tidak terlalu berekspresi dalam menyambut apapun, barangkali itu penyebab kenapa ramadhan hari ini tidak begitu menarik bagi masyarakat kita. Ya.. kalo bicara kualitas spiritual masyarakat, langsung beres lah. Revmekel mencoba melihat persoalan dengan mengendarai helikopter view, melihat dari arah atas. Tanpa penghalang gedung gedung priomordial dan batas tutorial pemikiran, demi kapitalisme intelektual, nilai dan grad berfikir harus semakin besar. Sekalipun harus berperang dengan musuh kapital, yakni komunisme intelektual yang masih mendambakan kesama rasa dan rataan  dalam berfikir.

Penulis: Riyan Hidayatulloh
Ditulis di SMC Singaparna.
Gayung kecil, merauk air lautan, hanya sedikit yang didapat.

No comments:

Post a Comment