Oleh
Ridwan
Sabar Buhori, S.Hum
Kabid
Sosial dan Ekonomi PD HIMA PERSIS Kota Bandung
Sebuah
organisasi (Jamiyyah), apapun bentuk dan tujuannya, kelestarian dan
keberhasilannya tergantung pada dua hal : adanya prinsip yang jelas yang
menjadi pijakan organisasi tersebut dalam upayanya membentuk masyarakat, dimana
setiap langkahnya akan bertolak dan terpengaruh oleh prinsip tersebut. Dan yang
kedua, adanya ketaatan dan kepatuhan Jama’ah (anggotanya) yang berdasar
ketaatannya itu mereka kemudian memilih ketua organisasi tersebut, dan selanjutnya
menyatakan bahwa mereka sepenuhnya akan melaksanakan semua keputusan yang
ditetapkan organisasi dan tidak melanggarnya.
Untuk keberhasilan suatu organisasi, dua persyaratan tersebut menurut
Abul A’la Maududi mau tidak mau harus dipenuhi. Dan setiap organisasi, baik itu
organisasi militer, politik, sosial, maupun masyarakat, tidak mungkin dapat
berdiri tanpa adanya dua syarat tersebut. Seterusnya, organisasi itu pun tidak
mungkin dapat terus mempertahankan eksistensinya dan mencapai tujuannya tanpa
kedua hal tersebut.
Lihat
sajalah sejarah dunia sepanjang zaman, dan telitilah dari awal hingga akhir,
niscaya anda tidak akan menemukan satu contoh pun adanya organisasi atau
gerakan berhasil, atau minimal dapat berjalan secara lancar, sedangkan
anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang pengecut, munafik dan membangkang
terhadap kaidah-kaidah organisasi. Untuk meyakini hal itu, seseorang tidak
perlu bersusah payah membuka lembaran buku-buku sejarah, tapi cukup dengan
melihat sekelilingnya saja.
Cobalah,
apa pendapat anda tentang satu pasukan yang tidak memiliki ketundukan kepada
Negara, tidak patuh pada perintah komandannya, dan tidak pula mematuhi
keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh organisasi militernya? Dapat
dipastikan bahwa manakala genderang perang dipukul, tak aka nada seorang terntara
pun yang keluar dari tempat tidurnya, dan disaat komandan mereka mengeluarkan
perintah, niscaya tak ada seorang pun yang mau mendengar perintahnya. Lantas,
apakah anda masih bisa mengatakan bahwa mereka itu “tentara”? apakah anda masih
berharap bahwa tentara yang tidak mengakui komandannya, dan tidak memiliki
disiplin serupa itu bisa menang dalam pertempuran ? selanjutnya apa pula
pendapat anda tentang suatu Negara yang tidak lagi memiliki undang-undang yang
ditaati oleh rakyatnya dan keputusan-keputusan yang dikeluarkannya pun sudah
tidak mereka hiraukan, sementara itu para pegawainya sudah tidak pula bekerja
atas peraturan yang telah digariskan bagi mereka ? bisakah anda mengatakan
bahwa di dunia ini ada satu Negara yang seperti itu bentuknya ?
Kaidah
semacam ini berlaku untuk semua bentuk organisasi tanpa terkecuali. termasuk
juga HIMA PERSIS (Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam). Iman dan ketaatan itu
pada hakikatnya merupakan jiwa organisasi tersebut. Semakin besar keimanan, dan
semakin penuh ketaatan yang dimiliki oleh anggota organisasi itu, makin kuat
dan berhasil pula ia mencapai tujuan-tujuannya. Dan seorang pemimpin pun selain
dari wajah sebuah organisasi ia juga harus menjadi contoh/Suri Tauladan untuk
anggota-anggotanya, tidak terbayangkan apabila sebuah organisasi dipimpin oleh
seorang pemimpin yang lemah, tidak mempunyai integritas, berakhlak buruk dll.
maka anggota-anggotanya pun tidak lebih baik dari pemimpinnya. Maka timbullah
suatu pertanyaan, lantas apa yang terjadi pada sebuah organisasi ketika
kondisinya sudah genting seperti itu ? maka tunggulah sebuah kehancuran. Wallahu
A’lam. (DAF/L)
No comments:
Post a Comment