Oleh: Jundi
Nasrullah
(Anggota Bidang Kaian Ilmiah PK.Hima Persis UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Sosial (KBBI) adalah berkenaan
dengan masyarakat, perlu adanya komunikasi (interaksi). Sedangkan sosialisme
adalah ajaran atau faham kenegaraan dalam ekonomi yang berusaha supaya harta benda,
industri dan perusahaan menjadi milik negara.
Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat
ada yang dinamakan interaksi dengan istilah sosial. Manusia adalah
makhluk sosial yang satu sama lain saling membutuhkan. Sama halnya dengan
Islam, di dalamnya ada dogma untuk saling memberi, saling tolong menolong, yang
sifatnya sangat kolegial. Islam adalah agama rohmatan lil aalamin yaitu agama
yang mengandung ajaran kasih sayang terhadap seluruh alam. Islam sudah mengatur
berbagai aturan yang sifatnya duniawi dan ukhrowi.
Pada abad melinium ini berkembanglah faham-faham atau aliran kiri yang
tentunya kontradiktif dengan ajaran islam. Aliran ini salah satunya terjun pada
bidang ekonomi. Sebut saja faham kapitalisme, sosialisme, komunisme dan
lain-lain. Dalam hal ini dengan banyaknya aliran-aliran yang kontradiktif
dengan Islam kita harus bisa memfilterisasi aliran-aliran tersebut.
Dikotomi antara Islam dan sosialisme itu dilihat dari segi cara ataupun
sistem dan aturan yang dilakukan oleh sosialis juga dengan kapitalis. Islam
menyelisihi kapitalis dengan menatapkan adanya zakat yang merupakan sebuah
bentuk solidaritas terhadap kaum proletar, juga melarang riba dan
muamalah-muamalah lainya yang haram. Demikian juga islam telah menyelisihi kaum
sosialis-sosialisme yang dibangun di atas kedzaliman terhadap para hamba dan
menimbulkan permusuhan di antara mereka, munculnya kemalasan dibarisan mereka
dan menegasikan kemampuan dan semangat kerja mereka. Sosialisme dilandasi atas
pembatasan kepemilikan pribadi, dan menghapus kelas-kelas manusia, agar sama
dalam kemiskinan, penghambaan, dan kehinaan dibawah tatanan yang rusak ini.
Akan tetapi mereka yang melebelkan dirinya sebagai “pemikir Islam” justru
menjadi propagandis dan penyeru sosialisme. Bahkan ada yang menyebut nabi sudah
mengajarkan faham sosialisme sejak 1200 tahun sebelum Karl Marx.
Di dalam faham sosialisme, saya ingin mengkritisi bahwa sosialisme ada
unsur penetangan terhadap taqdir Allah SWT. di dalam bidang ekonomi termasuk
padanya rezeki yang telah diatur oleh Allah adalah sebuah taqdir yang harus
kita terima. Ada yang dilebihkan oleh Allah rizkinya dan juga ada yang
dikurangi dengan mengandung hikmah dari tiap rezeki yang Allah turunkan. Bagi orang
yang diberi rezeki lebih maka akan sadar atas apa yang Allah beri sehingga ia
bersyukur, pun dengan orang yang diberi rezeki kurang, maka ia akan tahu bahwa
ini adalah ujian dan harus bersabar.
Di dalam sistem sosialisme mengandung pemaksaan dan perampokan. Seseorang
yang mempunyai harta akan diambil dengan cara paksa. Setelah diambil dari
pemilik yang asli maka otoritas dalam membagikan harta ini oleh pemimpin. Lalu
dibagi rata kepada masyarakat, sehingga yang miskin tidak akan pernah bangkit
dari keterpurukan karena ketika dia tidak bekerja harta (uang) sudah ada, jadi
menegasikan semangat atau etos kerja mereka, sedangkan yang kaya akan terus
digerogoti oleh kaum sosialisme dan pada akhirnya dia juga akan jatuh miskin.
Ada deviasi kah dalam sistem ini?
Allah SWT. Menetapkan orang-orang fakir yang disalurkan zakat kepada
mereka, dan tidak ada zakat kecuali dari seorang yang kaya, maka dengan ini
manusia terbagi secara syar’i sebagaimana terbagi secara takdir kepada dua
bagian. Yaitu kaya dan miskin.
Seandainya sosialisme wajib secara agama, maka tidak akan terjadi pembagian
ini (kaya dan miskin), dan orang-orang kaya harus menyamai dari segi apapun itu
dengan orang fakir, agar semuanya menjadi satu tingkatan atau tidak ada
diskriminasi sebagai penganut sosialisme.
Maka kontradiktif dan absurdi jika sistem sosialisme disejajarkan atau
menjadi kolega islam di dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun secara keyakinan
dan praktik maka telah terdahulu bahwa islam telah mendahului kepada semua
kebaikan dan menjauhi semua kejelekan dan apa yang merekan serukan dari
penyamarataan dan mencari keadilan di antara person-person rakyat maka telah
tampak bahwa ia tidaklah benar. Tuan Ahmad Musier, seorang muslim Jerman, di
rumahnya di Berlin Barat, dia berkata:
“ Dahulu kami mencela pemerintahan Hitler bahwa dia
mengklaim sosialisme untuk merealisasikan persamaan antara rakyat, dan
bersamaan dengan hal itu bahwa makanan para perwira berbeda dengan makanan para
prajurit. Para perwira memiliki dapur yang memiliki menu-menu makanan, dan para
prajurit secara umum memiliki dapur sendiri yang memiliki menu-menu makanan
yang kualitasnya di bawah menu-menu makanan bagi para perwira. Tatkala pasukan
Jerman kalah, aku menjadi tawanan orang-orang Rusia. Maka mereka membawaku ke
Moscow dan aku tinggal di sana selama dua tahun. Maka aku melihat bahwa pasukan
Rusia memliki lima dapur, sebagiannya lebih tinggi dari yang lain, yaitu dari
segi makananya. Dapur itu ada lima tingkatan: tingkatan tertinggi untuk para
perwira tinggi, tingkat kedua untuk para perwira menengah, tingkat ketiga untuk
para perwira rendah, tingkat keempat untuk para komandon, dan tingkat kelima
untuk para prajurit biasa.” Dia berkata: “saya mengetahui bahwa dua kelompok
tersebut di dalam klaim mereka: Sosialisme-Nasionalis dan Sosialisme-komunis,
semuanya pembohong memperdaya”. (Al-Islam Wal Madzahib Al Isytirakiyyah Hlm.
20-21). (DAF/L)
No comments:
Post a Comment