Memperkokoh Heterogenitas - Hima Persis Kota Bandung
Memperkokoh Heterogenitas

Memperkokoh Heterogenitas

Share This
Oleh :
Fajrin Sidek 
(Ketua PD. Hima Persis Kota Bandung)


Keberagaman Indonesia merupakan identitas murni bangsa ini. Sekalipun klaim atas kebenaran-subjektif melekat pada setiap kelompok, golongan ataupun mazhab hingga individu di negeri ini. Realitas mutlak atas kebenaran absolut Tuhan mestinya merupakan jalan integritas bangsa ini dengan pancasila sebagai ideologi yang legal sekaligus memperkuat pluralitas nusantara. Begitupun seharusnya seorang Muslim bersikap di hadapan Negara ini, salah satunya menghilangkan tendensi dalam menghadapi perbedaan dan mulai terbuka dalam menyikapi keanekaragaman.

Gagasan pluralisme yang muncul sekitar abad ke 19 oleh seorang tokoh pluralis religus John Hick, merupakan contoh tindakan menghadapi keberagaman yang hingga hari ini di anut oleh berbagai tokoh pluralis Indonesia. Nama-nama seperti Rudolf Otto dan Friedrich Schleiermacher di catat oleh Muhammad Legenhausen sebagai orang yang mulai memperkenalkan lagi gagasan pluralisme yang berawal dari tindakan eksklusif agama kristiani dan kemudian akhirnya mereka dianggap sebagai protetasnisme liberal. (Muhammad Legenhausen:1999).

Latar belakang pertentangan antara akal dan wahyu, kemudian disusul dengan mazhab humanisme yang menyatakan manusia sebagai pangkal dan sumber kebenaran nyatanya menjadi babak baru peralihan kekuasaan politik kaum gerejawan katolik dengan digantikan oleh akal manusia. Rene Descartes, David Hume, John Stuart Mill hingga John Locke sampai dengan Kant yang merupakan tokoh modernisme menjadi sumbangan penting atas gagasan liberalisme Politik dan khususnya Pluralisme. Di Indonesia sebagai sebab heterogenitas bangsa ini pun menjadi dampak masuknya gagasan pluralisme ini yang juga digagas oleh sebagian tokoh terkemuka seperti Abdurrahman Wahib, Nurcholis Madjid, Jallaludin Rakhmat serta Muhsin Labib merupakan daftar penggiat ide-ide pluralitas, meski dengan gagasan pluralism yang berbeda seperti gagasan antara pluralism religious normatif (yakni setiap agama meski mengedapankan etis dan moralis serta mengahargai setiap perbedaan), pluralism religious soteriologis (bahwa tidak ada monopoli keselamatan bagi agama tertentu saja, setiap agama memperoleh keselamatannya diakhirat nanti) dan lain sebagainya. Maka, sebagai seorang Muslim yang moderat pun kita harus memiliki langkah yang pasti dan tegas dalam memahami gagasan ini. Walaupun gagasan pluralisme berawal dari perlawanan atas klaim kebenaran subjektif kristiani oleh John Hick, akan tetapi gagasan ini tidak lantas ditolak dengan asumsi problem pengalaman keagamaan yang berbeda. Namun karena permasalahan yang dinilai sama dan untuk menjauhi konflik yang bisa saja menyerang persatuan bangsa Indonesia sehingga mungkin saja gagasan pluralitas meskinya diterima untuk memperkokoh heterogenitas dan integritas bangsa Indonesia.

Namun gagasan pluralisme ini pun kemudian menjadi perdebatan panjang diberbagai kalangan khususnya para kaum eklusivisme yang dengan giat menentang gagasan ini. Suatu tindakan tertutup dan statis bisa saja memperlambat peradaban seperti dijelaskan Nurcholis Majid, suatu bentuk pemikiran yang menjadi tradisi yang sulit ditolak akibat menerima suatu pemikiran baru yang akhirnya mengalami stagnasi. Nilai keterbukaan terhadap berbagai pandangan dan perbedaan seharusnya menjadi rahmat Tuhan yang harus kita jaga. Keberagaman manusia yang secara tekstual digambarkan dalam tinta ilahi sudah barang tentu merupakan takdir Tuhan yang harus kita terima.

Ikhtiar manusia sebagai bentuk kebebasan yang diberikan Tuhan harus kita proyeksikan dalam menjaga semua manifestasi Tuhan, salah satunya dengan menjaga alam semesta ini. Penciptaan langit dan bumi beserta pergantian siang dan malam, serta semua makhluk yang ada di bumi merupakan kreasi-Nya (ali-Imran:190), dan harus kita hargai. Begitupun penciptaan manusia yang beragam, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah merupakan karunia Tuhan yang amat besar (al-Hujurat:14). Oleh karena itu, maka tindakan apapun yang akan menghasilkan konflik serta memecah belah umat manusia harus kita hindari dengan semangat spiritual yang terbuka dan menjaga segala perbedaan demi terciptanya perdamaian umat manusia. Maka dengan landasan atas kesatuan ilahian dan insaniah akan tercipta integritas spiritual (ali-Imran:103), dan akan menghasilkan kesatuan umat manusia yang beragam.

No comments:

Post a Comment