Profesi desainer
menjadi profesi yang cukup populer di zaman ini atau –bahasa yang sedang
tren—menyebutnya Revolusi 4.0. Selain sebagai media untuk menyalurkan hobi dan
bakat, profesi ini juga dianggap sebagai profesi dengan peluang kerja yang
besar serta bergengsi. Tapi dibalik peluang kerja yang besar serta bergengsi,
buruh desain, desainer, tukang desain, atau tukang ngegambar lewat aplikasi di
laptop memiliki masalah yang tidak jauh berbeda dengan buruh lain.
Desainer adalah
buruh, sementara kalau kita rujuk dalam KBBI buruh adalah orang yang bekerja
untuk orang lain dengan mendapat upah, desainer begitu kan? Ditambah istilah
“klien adalah raja” merupakan bukti bahwa desainer adalah buruh, maka selanjutnya
saya akan menggunakan istilah buruh desain di tulisan ini. Istilah “klien
adalah raja” sering diontarkan oleh kebanyakan buruh desain karena sering
merasakan ocehan klien yang banyak mau, seperti yang pernah saya alami; “Mas,
coba logonya geser sedikit ke kanan… eh, ke tengah aja deh. Logonya mendingan
ditambahin efek bayangan mas, terus font-nya coba yang lebih klasik mas kayak
tempo doeloe… tapi modern, bisa kan mas?” bayangin coy, klasik seperti
tempo doeloe tapi modern, kudu kumaha aing? (Harus bagaimana saya?)
Biasanya kami
–para buruh desain– selalu meminta
konsep untuk isi konten yang akan kami desain agar sesuai dengan yang klien mau
atau meminimalisir revisi. Tapi ada saja klien yang meminta agar desainnya
direvisi, ya… geser-geser sedikit mah nggak masalah, tapi sampai ada yang minta
konsep baru lah, ditambah efek yang menurut saya (desainer) tidak pantas untuk
konsepnya bahkan norak, sampai permintaan yang aneh seperti kasus font
tadi.
Belum lagi saya
pernah mendapatkan klien yang goblok, bangsat, anjing, tolol tidak
sabaran, selalu bertanya “Udah jadi mas?” tiap 20 menit sekali, giliran saya
jawab “Mohon sabar pak, desainnya agak rumit” Dia malah marah bahkan sampai
merendahkan, “Masa desain segitu aja lama banget sampai dibilang rumit, tukang
desain bukan sih? Kalau gak bisa bilang dong dari awal!”.
Tentunya saya
tidak terima diperlakukan seperti itu, tapi karena saya desainer online yang
bergerak melalui media sosial, maka saya tak perlu ambil pusing jika mendapat
klien seperti ini, cukup kembalikan uang muka, konfirmasi bahwa uang muka sudah
dikembalikan, blokir nomornya, simpan filenya untuk bahan desain yang
lain. Karena menurut saya itu lebih baik daripada kemampuan desain saya harus
direndahkan oleh orang yang tak mengerti desain, dan itulah cara saya melawan.
Tetapi tetap
saja, “jalan tak ambil pusing” ini nampaknya kurang efektif untuk menyadarkan
klien agar menghargai buruh desain, cara itu saya gunakan karena tidak mau
ambil pusing, buruh desain lain bisa saja menganggap hal semacam ini serius karena
takut kehilangan pesanan desain yang telah ia tunggu-tunggu atau mungkin tidak
tahu bagaimana caraya melawan ketika ditindas seperti itu. Buruh desain bukan hanya
saya di negeri ini. Masih banyak buruh desain yang tertindas di negeri ini
membutuhkan upaya agar dihargai dan tidak dipandang sebagai objek oleh klien,
bos, atau apapun itu.
Jam kerja yang tidak manusiawi,
deadline tanpa kompensasi, serta revisi berulang kali menjadi masalah yang
tidak mendapat solusi bagi seorang buruh desain. Belum lagi klien yang
meremehkan buruh desain seperti; “ngegambar segini doang kok mahal banget?” Segini
doang katanya anjirrr…
Padahal selain
tenaga dan waktu, buruh desain adalah profesi yang membutuhkan ide dan
kreatifitas, komputer atau laptop yang harus memadai spesifikasinya agar bisa
diisi aplikasi original yang mahal harganya. Bahkan jika tidak memiliki
keduanya, seorang buruh desain berinisiatif menggunakan laptop yang memiliki
spesifikasi “cukup” untuk diisi aplikasi bajakan walaupun pada akhirnya
nge-hang dan memunculkan tulisan ‘your application is not responding’.
Nah, sepertinya
mayday bisa menjadi salah satu bentuk usaha untuk menimimalisir masalah yang
dialami buruh desain. Setidaknya buruh desain bisa menyalurkan keluhan dan
protes seperti “Desain grafis bukan desain gratis” untuk diajukan kepada
orang-orang yang minta digambarkan wajahnya versi vector dengan embel-embel
“nanti dipromosiin deh, di Instagram gue” padahal followernya nggak sampai dua
ratusan, hasil beli pula, bot doang.
Maka waktunya
desainer untuk bersatu, merapatkan barisan, menyampaikan keresahan, menuntut
segala bentuk penindasan bagi buruh desain, sebab, KITA SEMUA ADALAH BURUH!!
Penulis: Irham Farhan (Ketua PK. Hima Persis Unipi Bandung periode 2019-2020)
mantap
ReplyDelete