Islam, Media dan Dinamika Politik Indonesia - Hima Persis Kota Bandung
Islam, Media dan Dinamika Politik Indonesia

Islam, Media dan Dinamika Politik Indonesia

Share This
Oleh:
Ridwan Rustandi, S.Kom.I., M.Sos.
(Ketua MPO Hima Persis Jawa Barat)

Media massa dengan beragam variannya menawarkan kesemarakan citra yang tidak terbendung (fantasmagoria budaya). Konten-konten media massa dapat disetting sedemikian rupa mengikuti alur kepentingan para yang empunya media. Dalam hal ini, pemilik media  memiliki akses  yang  lebih luas  dibandingkan pihak lainnya.  Namun,  yang penting disadari bahwa pemilik mediapun hari ini bukan hanya sebagai business man   saja,   melainkan    juga    berperan    sebagai   seorang    agamawan, fungsionaris/ pimpinan partai, bahkan birokrat. Maka, pada titik ini, para pemilik media memiliki peran ganda yang dapat memainkan agenda media sesuai dengan kepentingannya.

Pendekatan  klasik  memandang   bahwa   media   massa  sebagai  bagian  dari   budaya  manusia  memiliki fungsi sosiologis.  Artinya,  media  massa harus   digunakan sebagai sarana edukasi dan informasi. Baik yang berkaitan dengan pemerintah (state apparatus ) maupun informasi khalayak (citizen apparatus). Dalam hal ini, pesan yang disampaikan melalui media massa tidak memiliki tendensi apapun.  Sementara  itu,  pandangan   kritis    beranggapan   bahwa   media   tidak   hanya   menawarkan   fungsi sosiologis saja, tetapi juga memiliki fungsi ideologis. Yakni, bahwa media menawarkan ideologi-ideologi  tertentu  yang   dibalut  melalui  panorama   program  ataupun  iklan, sehingga  khalayak  terpengaruh  untuk  melaksanakan  agenda  media  yang   awalnya dianggap tidak penting  menjadi penting.  Dengan begitu,  pandangan ini menganggap   bahwa   pesan  yang   hadir lewat   media   massa  adalah  hasil  konstruksi  para   pelaku  media dengan ideologi dan kepentingan tertentu. Pada tataran praktinya, ideologi yang dimaksud  baik  dalam  konteks    ekonomi,  budaya,  sosial,  agama,  maupun   politik.


Dalam konteks agama misalnya, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengemas doktrin-doktrin agama ke dalam sebuah teknologi layaryang berusaha menampilkan wajah agama dalam sebuah layar. Agama direpresentasikan menjadi serangkaian citra dengan nilai-nilai tertentu yang berusaha disampaikan dengan cara berbeda kepada khalayak ramai. Dalam hal ini, agama laiknya sebuah objek citraan media yang dapat diinterpretasikan mengikuti logika media dengan basis kepentingan tertentu. Maka, fenomena komodifikasi agama (agama sebagai komoditas) kian hari semakin massif dikaji dan dipraktekkan dalam kerangka media massa.

Pun halnya dalam orientasi politik, media massa menawarkan beragam cara canggih untuk  mempropaganda  ideologi politik  tertentu  dengan daya  jangkau yang luas  dan efektif.  Keterhubungan antara  politik dan media  massa merupakan sesuatu yang tidak bisa disangsikan lagi. Perkembangan media massa sebagai wujud artifisial modernitas, mampu menjembatani manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari (everyday life). Media massa dipandang sebagai wadah informasi yang memberikan edukasi sekaligus hiburan. Sebagai sebuah sarana, media massa memiliki fungsi yang variatif. Dari aspek utilitas, media massa bisa kita gunakan sebagai sarana pendidikan sosial, jembatan transaksi ekonomi, corong perkembangan budaya manusia, maupun untuk  mendiseminasi atau bahkan menginfilterasi  ideologi   tertentu.

Tulisan ini akan diawali dengan kajian ihwal mediatisasi agama yang menemukan caranya dalam menyebarkan paham-paham agama tertentu. Kemudian akan diuraikan pula keterkaitan antara Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia dengan teknologi layardisertai dengan analisis media berkaitan dengan efek terpaan media massa. Dan akhirnya, kita akan mencoba membaca relasi agama, media dan politik dalam kacamata media massa. Sejauh mana dinamika yang terjadi dan bagaimana dampaknya bagi kelangsungan politik Islam di Indonesia. Pada sisi ini, penulis mengambil potret Aksi Bela Islam yang dilakukan pada penghujung 2016 secara kasuistik.

Media sebagai Media
Teknologi layarbersifat ge-stell (berupa ruang pembingkaian) yang dapat merekayasa realitas kehidupan manusia menjadi serpihan-serpihan representasi media massa. Rekayasa realitas yang dilakukan melalui layardirepresentasikan sedemikian rupa mengikuti logika media. Logika media mengarah pada upaya rasionalisasi, birokratisasi dan konsumerisasi pesan. Rasionalisasi pesan media berfokus pada konten atau isi komunikasi tersebut. Yakni, sejauh mana pesan bersesuaian dengan selera pasar. Birokratisasi pesan bersandar pada relasi yang terbangun antara pengirim dan penerima dalam hal memahami pesan yang disampaikan. Relasi tersebut apakah berlangsung secara dialogis, dominatif atau hegemonik. Sedangkan, konsumerisasi pesan mengikuti budaya populeryang cenderung  latah dan bercitarasa selera pasar.

Rasionalisasi, birokratisasi dan konsumerisasi pesan tersebut berlangsung dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Marshall McLuhan membagi peran layar menjadi dua, yakni: layarsebagai medium dan layarsebagai tujuan (dalam Hudjolly, 2011:20). Layars ebagai medium ialah bahwa layarsebagai sarana penyampaian pesan. Dalam hal ini, adanya pesan yang hendak disampaikan melalui layar menjadikan layarsebagai sarana atau alat penyampai pesan komunikasi. Layar diposisikan sebagai sarana atau medium yang menghantarkan pesan komunikasi. Sementara itu, layarsebagai tujuan ialah bagaimana suatu pesan dapat menempati layar-layar, menguasai medium-medium dan menjadi isi dari medium. Layarbukan sekedarperantara pembawa pesan, melainkan telah menjadi pesan itu sendiri. Pada posisi ini, apapun yang ditampilkan dalam layardipandang sebagai sumberkehidupan manusia.

Dalam menjelaskan fenomena ini, Stig Hjarvard (2006:3-4) membagi tiga metaformedia, yakni:  media  sebagai medium,  media  sebagai bahasa  dan media sebagai lingkungan. Media as a channel dijadikan sebagai sarana atau alat untuk menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima. Media memfokuskan diri pada konten atau pesan komunikasi tersebut. Dalam konteks agama, media menjadi agen distribusi representasi agama. Media as language yakni bagaimana formulasi pesan dilakukan melalui simbol bahasa untuk menegaskan hubungan antara isi (konten), pengirim  dan penerima.  Dalam hal ini,  simbolisasi dilakukan  untuk mengkonstruksikan narasi dan realitas keagamaan melalui representasi media. Dan, Media as environment menjadikan media sebagai sumberpengalaman sosial (social experience) manusia. Media menjadi entitas yang inheren dalam kehidupan manusia, dimana mempunyai implikasi yang signifikan secara kultural. Representasi media mengenai kehidupan  manusia  dapat  menggantikan kehidupan real.

Fenomena Keagamaan Bermedia
Wacana sosial keagamaan menyertakan format-format teknologis dalam menguasai medium layar. Dalam area budaya pop, wacana keagamaan memusatkan diri ke dalam dua aspek : menyampaikan pesan dan menguasai medium. Setiap realitas sosial, termasuk agama, yang dikemas melalui sebuah layarmenyebabkan dua kondisi: demonstrasi (sisi yang ditonjolkan) dan monstrasi (sisi yang disembunyikan). Implikasinya,  menyebabkan kehadiran Tuhan mulai tergantikan. Dalam hal ini ada tiga fase kehadiran Tuhan yang mulai tergantikan, yakni: Fase Teosofi, Teknosofi dan Libidosofi.

Relasi teknologis agama dan media dapat berlangsung melalui enam tahap. Pertama, tahap awal ketika tekhne mewujud dalam bentuk komunikasi lisan. Dalam hal ini, agama merupakan sebuah pesan komunikasi yang disampaikan secara lisan. Kedua, ketika tekhne berlangsung melalui komunikasi lisan, pada tahap ini komunikasi lisan tersebut melahirkan pandangan dunia (worldview) yang ditransmisikan melalui tulisan. Ketiga, tahap ini berlangsung ketika tekhne menggandakan dirinya melalui sistem simbol. Keempat, Tekhne menemukan perangkat baru berupa gelombang elektromagnetik. Kehadiran televisi dan radio mengawali  perkembangan  relasi  agama dan media. Kelima, Tekhne mulai melakukan pengemasan atau pembingkaian melalui proyeksi gambar. Keenam, adalah tahap dimana Tekhne hadirmelalui sistem computer digital yang tidak bisa dipungkiri lagi. Pada tataran praktisnya, tahap satu sampai empat relasi berlangsung seara demonstrasi. Berupa penyingkapan- penyingkapan dari realitas  keberagamaan yang  direpresentasikan melalui media.

Sedangkan tahap lima dan enam mulai mengarah pada monstrasi, yakni mulai dilakukannya  pembingkaian terhadap realitas  keberagamaan. Armahedi Mazhar (2004:261) menjelaskan bahwa relasi manusia dan teknologi terklasifikasi melalui pandangan dan karakteristik dunia simbolik (ge-stell atau ruang pembingkaian). Relasi tersebut menyebabkan adanya ruang penyingkapan dan ruang persembunyian. Dalam istilah Michel Foucault ialah adanya pola ganda relasi, yakni monstrasi dan demonstrasi. Secara historis, ada tiga fase kehadiran Tuhan di dunia ini yang secara berurutan menunjukkan semakin menjauh dan menghilangnya Tuhan dari dunia penampakan ciptaan manusia (Yasraf Amir Piliang, 2004: xiv.). Fase Teosofi, fase dimana Tuhan berada di atas manusia. Dimana manusia menjadi citra dan manifestasi kehadiran Tuhan. Fase Tekhnosofi, ketika kehadiran Tuhan ditandingi oleh kehadiran teknologi yang mengambil alih berbagai peran Tuhan. Lewat sains dan teknologi manusia membuat substitusi artifisial dalam dimensi ketuhanan. Fase Libidosofi¸ ketika dunia sepenuhnya dikuasai oleh ide, gagasan, citra, objek yang merupakan  refleksi  dari  hasrat-hasrat.

Pemaknaan Identitas-Realitas Pesan Media
Burke dan Stets (dalam Fakhruroji, 2011: 116) menjelaskan ada dua pemaknaan terhadap identitas, yakni: identitas peran (role identity) dan identitas sosial (social identity). Identitas peran adalah makna yang menginternalisasi peran seseorang atas dirinya. Misalnya, identitas peran seorang guru bisa simkanai sebagai seorang mentor atau teman. Makna identitas peran merujuk pada dua hal, yakni: kebudayaan dan interpretasi peran seseorang (dimana identitas  diperoleh melalui reaksi orang lain), dan identitas peran memiliki dimensi idiosynratic (individu memiliki kuasa untuk memaknai identitasnya). Identitas sosial didasarakan pada identifikasi seseorang dalam kategori sosial yang sama. Identitas dalam konteks media hari ini dimaknai dalam sudut pandang Postmodernisme, dipandang tidak stabil, rapuh. Identitas dianggap hanya sebagai mitos dan ilusi semata. Baudrillard (1983, dalam Kellner 2010:318) menyatakan bahwa identitas ibarat lintasan dalam sebuah terminal, efek yang tersibernetisasi dari sistem fantastik kontrol, identitas berupa hasrat subjektivitas yang bersifat skizoid dan nomaden.

Sementara itu, konstruksi realitas pesan media dapat ditinjau melalui berbagai pendekatan. Yakni, teori fakta sosial, teori definisi sosial dan teori konstruksi sosial. Teori fakta sosial berpandangan bahwa persepsi dan tindakan manusia sangat ditentukan oleh masyarakat dan lingkungan sosialnya. Norma, struktur dan institusi sosial tertentu mempengaruhi manusia dalam arti luas. Sehingga, manusia bertindak sesuai dengan tata aturan sosial tempatnya bernaung. Teori fakta sosial menjelaskan hegemoni masyarakat terhadap individu. Sementara itu, teori definisi sosial menganggap bahwa manusialah yang menentukan aturan, norma dan tindakan masyarakatnya. Manusia sebagai individu mempunyai pengaruh yang cukup luas terhadap tata kelola kehidupan masyarakat. Dimana, norma, struktur dan nilai sosial dalam sebuah masyarakat ditentukan oleh individu tersebut. Manusia benar-benar otonom, ia bebas  membentuk dan memaknakan realitas   bahkan menciptakannya. Wacana-wacana realitas (discourse) ia ciptakan sesuai dengan kehendaknya (Masnur Muslich, 2008 : 151).

Sementara itu, teori konstruksi sosial berpandangan bahwa realitas memiliki  dimensi subejktif  dan objektif.  Manusia  merupakan instrument  dalam menciptkan realitas yang objektif melalui proses  ekternalisasi, sebagaimana ia  memengaruhinya melalui proses internalisasi yang mencerminkan realitas objektif. Dengan demikian, masyarakat sebagai produk manusia, pun halnya manusia sebagai produk masyarakat. Teori ini dikembangkan oleh Peter L.Berger dan Thomas Luckman, dimana mereka berpandangan bahwa hubungan manusia dan masyarakat merupakan hubungan yang dialektis, dimana selalu ada thesis, antithesis, dan synthesis. Proses dialektis tersebut mempunyai tiga momen, yakni : pertama, ekternalis asi, dimana ada usaha manusia untuk mengekpresikan mental dan fisiknya  ke  dalam realitas  yang  ia   temukan.

Merupakan usaha kodrati dimana manusia menemukan dunianya sendiri. Kedua, objektivikasi, dimana manusia menemukan hasil baik mental maupun fisik dari usaha ekternalisasi yang dilakukannya. Manusia mulai memisahkan diri secara objektif dari realitas yang ia temukan. dan, ketiga, internalis asi, merupakan proses penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadran subjektif. Dalam hal ini, manusia mulai dipengaruhi oleh realitas atau struktur sosialnya. Salah satu wujud internalisasi adalah adanya sosialisasi (dalam Eriyanto, 2004 :14-19).

Kontruksi realitas tersebut, jika dihadirkan melalui media massa akan melahirkan dua pendekatan. Pendekatan pertama beranggapan bahwa pesan atau realitas yang disampaikan melalui media massa bersifat positivistik. Dimana media massa sebagai sarana konstruksi realitas (pesan) hanya menyampaikan pesan dari seorang komunikatorkepada komunikan. Pesan (text, message, discourse) dalam hal ini dianggap sebagai sesuatu yang bersifat normatif, disampaikan sebagai sebuah proses pendidikan, informasi atau hiburan kepada khalayak. Dan khalayak menerima pesan tanpa tendensi apapun, tidak ada hegemoni media, bahkan khalayak menerima secara serta merta (taken forgranted). Sementara itu, pendekatan kedua berpandangan bahwa pesan yang  disampaikan melalui media massa merupakan hasil konstruksi pihak tertentu dalam menyebarkan gagasan (disseminating opinion), menginfilterasi kepentingan (interes ting infiltration), serta untuk mempersuasi dan memobilisasi massa agarbertindak sesuai yang diinginkan (persuading and propaganda). Pendekatan ini menganggap bahwa pesan sebagai seuatu yang bersifat konstruktivis, ada ideologi tertentu yang dengan sengaja dimasukkan melalui media massa. Baik ideologi ekonomi, agama, maupun politik. Dengan begitu, pandangan ini menyatakan bahwa media  sebagai sarana  yang  sarat nilai, memiliki ideologi tertentu, dan dikonstruksi sesuai dengan kepentingan orang  atau golongan   tertentu.

Efek Terpaan Media Massa
Dalam lingkup penelitian terhadap efek media, para sarjana telah menemukan tiga dampak psikologis yang dilakukan oleh terpaan media massa. Media massa mempunyai kemampuan untuk mengkonstruksikan suatu peristiwa, bahkan mampu untuk membnetuk suatu realita sosial. Media massa dengan sendirinya akan mampu memberi pengaruh dan dampak pada khalayaknya (Bryan & Thompson, 2002 :177). Dampak tersebut yaitu :

Aspek Kognitif, yaitu berhubungan dengan gejala pikiran, berwujud pengetahuan dan keyakinan serta harapan-harapan tentang obyek atau kelompok obyek tertentu.

Aspek Afektif, berwujud proses berhubungan dengan perasaan tertentu seperti ketakutan, kebencian, simpati, antipati, dan sebagainya, yang ditunjukkan kepada  obyek-obyek tertentu.
Aspek Konatif, berwujud proses tendensi atau kecendrungan, berhubungan dengan perilaku mendekati atau menjauhi suatu obyek tertentu.

Dalam studi ilmu komunikasi, penelitian mengenai efek media massa (terutama televisi) berkembang dari masa ke masa. Begitu banyak penelitian yang dilakukan, ini menunjukkan betapa pentingnya media massa dalam kehidupan manusia. Media massa baik disengaja ataupun tidak telah mempengaruhi dan mengubah cara berpikir manusia. hal ini dipertegas oleh Marshal MCLuhan, bahwa media massa, termasuk televisi telah menjadi kekuatan dominan dalam kehidupan manusia (dalam Dara Hasparmudila, 2009 : 2).

Hipotesis kultivasi sengaja dikembangkan untuk menjelaskan pengaruh televisi terhadap masyarakat.  Hipotesis ini pertama kali diperkenalkan oleh George  Gebner dan koleganya dari Universitas Pennsylvania dari Amerika Serikat sekitar tahun 1960- an.Analisis kultivasi berfokus pada kontribusi televisi dalam memberikan gambaran khalayak terhadap realitas.  Televisi adalah sistem pusat dari penceritaan.  Melalui   drama, iklan, sinetron televisi membawa pesan dari media ke rumah. Dalam teori ini Gebnermenemukan sebuah fenomena yang disebutnya mainstreaming. Konsep mainstreaming artinya mengikuti arus, maksudnya bahwa mereka yang menonton televisi dengan frekuensi yang  tinggi akan lebih percaya  disbanding  dengan mereka yang jarang. Mereka yang sering menyaksikan kekerasan di televisi akan lebih percaya bahwa  kekerasan sering  terjadi atau lebih besardalam kehidupan nyata  dibanding   mereka yang jarang. Dengan begitu, melalui konsep ini Gebner menyatakan bahwa frekuensi dalam menonton televisi akan turut  mempengaruhi terhadap  efek terpaan  media yang di terima (Dominick, 1998 : 519).

Fenomena  lain  yang   ditemukan  Gebne radalah  apa  yang   ia  sebut  sebagai resonance. Yaitu suatu situasi dimana pengalaman response atau khalayak sesuai dengan apa yang  digambarkan oleh televisi, sehinggi memperbesar efek kultivasi. Apabila tayangan televisi sesuai dengan pengalaman pribadi pemirsa, maka daya penanaman ideologinya akan semakin kuat. Gebner menyatakan bahwa televisi telah membentuk nilai dan sikap yang sebenarnya sudah ada dalam sebuah kebudayaan masyarakat.

Gebner berpandangan bahwa televisi adalah sebuah lingkungan simbolik yang menawarkan tentang realitas melalui simbol-simbol tertentu. Pada posisi ini televisi telah mendominasi lingkungan masyarakat. Ketika  televise sedang  menceritakan tentang  suatu kisah, maka  hal yang  lebih ditekankan adalah bagaimana  menyampaikan sistem pesan dengan cara yang sama dan berulang-ulang. Televisi membuat dan merefleksikan opini, citra dan kepercayaan yang dipengaruhi oleh kebutuhan institusionalnya (dalam Dara Hasparmudila, 2009 : 5-6). Analisis kultivasi dimulai dengan analisis sistem pesan untuk mengidentifikasi pola-pola permanen, kontiniu, dan overarching dari konten televisi. Klasifikasi light viewer, medium viewer, dan heavy viewer diukur dengan jumlah waktu responden menonton televisi rata-rata setiap hari. Yang penting adalah adanya perbedaan tingkatan menonton, bukan pada jumlah  akurat  menonton.

Bukti kultivasi yang bisa diobservasi tergolong sederhana karena light viewer sekalipun dapat menonton televisi beberapa jam sehari dan hidup dalam kulturumum yang sama dengan heavy viewer. Karena itu, penemuan pola konsisten berbeda yang kecil tapi pervas ive di antara light viewer dan heavy viewer sangat mungkin. (Bryant, J & D Zillmann : 2002). Pergeseran kecil tapi pervasif dalam perspektif kultivasi dapat mengubah kondisi kultural dan membalik  keseimbangan pembuatan  keputusan  politis dan sosial.

Islam dalam Kerangka Media Massa
Tak dapat kita pungkiri, saat ini umat islam pada umumnya hanya jadi sasaran empuk para pengembang tekhnologi manusia. Dalam hal gadget-gadget saja, hanya negara- negara maju seperti AS, Eropa Barat, J epang dan China yang secara mandiri mampu menciptakan tekhnologi kontemporer yang dibutuhkan untuk memudahkan dan menciptakan kenyamanan dalam kehidupan manusia, sementara Umat Islam secara umum baru sebatas merasakan —sebagai pengguna sekaligus korban — pengembangan tersebut. Umat Islam menjadi pasar raya para kapitalis dunia.

Sejatinya, tekhnologi diciptakan untuk memudahkan dan memberikan kenyamanan dalam kehidupan manusia. Namun, realitas menunjukkan bagaimana elaborasi dan eksplorasi tekhnologi tersebut yang pada akhirnya mengarah pada upaya penghancuran peradaban manusia sendiri. Kita lihat misalnya, pengembangan tekhnologi Nukliryang dewasa ini gencar-gencarnya diperbincangkan. Antara AS, Israel, J erman, Perancis, Rusia, Iran, China, J epang dan negara-negara lainnya saling mengklaim satu sama lain menjadi pengembang tekhnologi masal yang dapat menghancurkan manusia seutuhnya. Parahnya lagi, negara-negara tersebut merasa lega bila telah mengembangkan tekhnologi yang lebih maju di banding apa yang di miliki oleh negara lainnya. ini menunjukkan bahwa perkembangan tekhnologi tersebut pada akhirnya mengarah pada upaya penciptaan alat yang mampu memusnahkan manusia sendiri. Kemudian, dalam hal tekhnologi informasi, misalnya perkembangan dunia maya. Pada awalnya, tekhnologi informasi tersebut diciptakan untuk memudahkan proses komunikasi antarmanusia di berbagai penjuru dunia. Namun, kenyataannya banyak pula yang terjebak pada geliat tekhnologi tersebut. Realitas nyata terkalahkan oleh realitas maya. Logika kehidupan sebagaimana contoh di atas dalam pandangan Amien Rais di kenal dengan logika-gila (Deadly Logic) (Amien Rais, 2006 : 110). Logika gila ini merupakan konsekuensi yang harus dijalani oleh manusia modern yang senantiasa menciptakan dan menikmati hasil-hasil perkembangan ilmu dan tekhnologi yang ada.

Deadly Logic yang selama ini menjadi sandaran dalam penciptaan tekhnologi, pada akhirnya akan mengarah pada proses penciptaan masyarakat megamachine —yakni masyarakat yang menyandarkan kehidupannya pada mesin-mesin (komputerisasi yang dirancang manusia sendiri untuk memudahkan aktivitas kehidupannya).

Akibatnya, akan memunculkan sikap pesimis, merasa diri tak berharga, kehilangan percaya diri (sense of integrity), identitas diri (self-identity), serta dihinggapi sindrom alienasi.

Kita  bisa melihat, bagaimana  upaya  deskripsi islam dan umat  islam dengan citra  yang  negatif dalam kehidupan manusia.  tiada lain karena, tekhnologi informasi saat ini yang dikembangkan oleh mereka yang anti islam mampu memasuki ranah psikologis umat manusia pada umumnya. Citra Islam sebagai agama radikal, Islam sebagai agama yang mengajarkan perang, islam sebagai agama teroris  begitu membahana di seantero dunia. Mengapa? Karena tekhnologi informasi dikuasai oleh mereka yang benci terhadap Islam. Artinya, saat ini kita sebagai Umat Islam menjadi korban perkembangan media informasi yang ada, dan menjadi pangsa besar, sasaran empuk dari beragam tekhnologi yang mereka (Baca : orang-orang yang anti Islam) ciptakan.  Orang-orang  yang  anti Islam tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan Umat Islam dengan beragam cara. Mereka akan senantiasa berusaha menciptakan keretakan di tengah-tengah persatuan umat islam tersebut.  bisa saja melalui penciptaan tekhnologi massal yang dapat menghancurkan citra islam di mata dunia. Benarapa yang Allah Ungkapan dalam kalamnya bahwa “ Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan berhenti menghancurkan Din Al-Islam sampai mereka (Umat Islam) mengikuti jejak, kesesatan mereka (Yahudi dan Nashrani)” (Q.S 02 : 120).
Media Politik
Dalam hal ini, media difahami sebagai titik pertemuan para pelaku media yang memiliki kepentingan politik. selain itu, media menjadi tempat persinggungan konflik kepentingan yang terjadi antara pelaku media (jurnalis), pemerintah, pemilik media, dan khalayak (masyarakat). Terdapat tiga pendekatan klasik mengenai media, yakni : pendekatan ekonomi, dimana media dipandang sebagai sebuah institusi yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya. Segala program atau media agenda harus mendatangkan nilai profit yang tinggi bagi pemiliknya. Pendekatan ini beranggapan bahwa skala prioritas program yang ditetapkan dalam sebuah media harus menarik minat masyarakat (populis), sehingga mendatangkan profit yang lebih. Pendekatan sosiologi, yakni media sebagai sarana edukasi dan informasi. Pendekatan ini menekankan bahwa fungsi utama media adalah memberikan pendidikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat cerdas dan tidak mudah terprovokasi. Institusi media massa menjadi jembatan menyampaikan atau mensosialisasikan norma, aturan dan nilai sosial yang dipegang dalam sebuah masyarakat. Pendekatan politik, dimana media rentan dengan kepentingan politik yang hendak disampaikan oleh baik pemilik ataupun penguasa dan pihak-pihak tertentu, sehingga masyarakat terpengaruh dan ikut andil dalam konteks kepentingan politik yang ditawarkan.

Mengenai pendekatan yang terakhir, erat kaitannya dengan persebaran ideologi sebuah kelompok atau elit politik. yakni, bagaimana seorang tokoh politik mencoba menyebarkan gagasan politiknya kepada masyarakat melalui media massa. Atau bisa jadi, media massa digunakan sebagai sarana konstruksi citra (imaginary) yang ingin disampaikan oleh partai politik tertentu. Bahkan, dalam skala luas, media massa difungsikan sebagai alat sosialisasi kebijakan politik yang ditetapkan pemerintah. Kepentingan atau ideologi politik seseorang masuk dan bekerja melalui berbagai sumberyang terkait denganstruktur masyarakat seperti perangkat hukum, kelauraga, agama, pendidikan dan termasuk media massa.

Dengan berdasar pada perangkatnya, Louis Althussermembagi perangkat infiltrasi ideologi menjadi dua, yakni : Repres sive State Apparatuss (RSA) dan Ideological State Apparatuss (ISA). RSA bekerja dengan cara represif dengan memakai kekerasan melalui alat negara seperti polisi, militer, pengadilan, penjara termasuk penculikan terhadap para aktivis.  Sementara  ISA, memasukkan ideologi secara persuasif dengan menggunakan institusi pendidikan, agama, budaya, bahkan media.  Melalui ISA  ini pemerintah menegaskan penindasan dan kekerasannya  terhadap  rakyat  secara  halus,  bahkan rakyat  sendiri bisa  jadi tidak menyadarinya.

Pada posisi ini, media massa dijadikan sebagai alat politik pemerintah atau golongan tertentu untuk mempersuasi, memobilisasi, memanipulasi bahkan membodohi rakyat agarberpikir, berperasaan dan bertindak sesuai dengan keinginan pemilik kepentingan (dalam Nurani St, sebuah artikel, 2013).

Fenomena ABI : Relasi Agama dan Dinamika Politik Indonesia
Fenomena Aksi Bela Islam (ABI) yang dilangsungkan dalam beberapa jilid dipandang sebagai sebuah dinamika baru dalam konteks perpolitikan Indonesia. ABI yang dimotori oleh beberapa kalangan ulama (menggabungan diri dalam gerakan GNPF MUI) merupakan wajah politik identitas agama yang dilakukan oleh umat Islam.

Walaupun isu utama dalam ABI berkenaan dengan penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik, namun realitas politik menunjukkan kepentingan politik dalam kontestasi pemilihan kepala daerah cukup kentara. Pasalnya, target ABI adalah seorang pejabat publik yang memiliki keyakinan agama sebagai seorang nashrani.

Gerakan ABI ini menjadi cukup monumental, mengingat GNPF MUI sejak awal berhasil mempropagandakan dan membangun kesadaran kolektif dalam mengawal isu penistaan agama. Klaim dari penggerak ABI menyatakan bahwa gerakan ini berhasil mengumpulkan krang lebih tujuh juta umat Islam dari berbagai penjuru nusantara. Bahkan, gerakan ABI ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan di seluruh dunia.

Dalam kerangka media, setidaknya terdapat empat narasi besaryang dapat dibaca sebagai sebuah relasi agama dan politik di Indonesia. pertama, kemenangan gubernur dan wakil gubernur Anies-Sandi direpresentasikan sebagai kemenangan Islam politik dalam panggung politik Indonesia. Islam politik yang dimaksud adalah praktik politik parktis dengan menggunakan sentiment, ideologi dan identitas Islam sebagai instrumen politik identitas Islam. Dalam hal ini, Islam sebagai sebuah agama menjadi pesan media yang dipropagandakan sedemikian rupa dengan maksud merubah atau menggugah kesadaran masyarakat dalam kontestasi politik di Jakarta khususnya yang akan berimplikasi dalam konstalasi politik nasional. Kedua, implikasi dari menguatnya wajah Islam politik di Jakarta akan memberikan kekuatan bagi kelompok Islamis dalam mengartikulasikan narasi ideologi politik di ruang publik.

Kelompok-kelompok militant Islam yang selama ini abai dan apriori terhadap masa depan Islam politik memiliki harapan besaruntuk menguasai struktur negara dalam mengaktualisasikan ideologi politik Islam sebagaimana yang mereka cita-citakan.

Ketiga, kekhawatiran yang mengemuka dari berbagai kalangan adalah adanya sikap intolerani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dipraktekkan oleh umat Islam Indonesia. walaupun, kenyataanya kekhawatiran ini belum terbukti. Hal ini menjadi wajar, mengingat pola dan cara kampanye dalam kontestasi politik di J akarta didominasi oleh sentiment agama dan kesukuan. Keempat, dalam konteks global.

Representasi media barat, terutama AS, menunjukkan sentiment dan cara yang sama apa yang dilakukan oleh Trump di Amerika. Dalam berbagai media kampanyenya, Trump selalu mengkampanyekan sentimen dan politik identitas terutama ras dan agama untuk meraih kemenangan politik dalam kontestasi presiden di Amerika.

Dalam kacamata global, Indonesia selama ini sering  dipromosikan sebagai  bukti dan contoh parexcellence bahwa Islam dan demokrasi bisa bertemu dan tidak saling  bertentangan sebagaimana  yang  dikhawatirkan sebagian orang  di  Barat.

Menurut Hefner(2000) praktik demokrasi Islam dapat terjadi karena ditopang oleh adanya kekuatan civil Islam. Dalam hal ini, ada tiga kekuatan civil Islam utama yang dapat menunjang gerakan Islam di Indonesia. pertama, adanya ulama pemikir. Sejak generasi awal kehadiran Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Haji Samanhudi, dan lain-lain adalah para ulama pemikiryang mampu menggerakkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam melakukan perlawanan. Hakikatnya, dua hal pokok yang dilakukan oleh para ulama ini adalah kewajiban untuk melakukan amarmakruf dan nahi munkar dalam berbagai fondasi kehidupan, serta keharusan untuk menyampaikan hikmah dan keteladanan dalam kehidupan sosial-kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, adanya pranata keagamaan. Pranata keagamaan mendorong  terwujudnya pemahaman  agama yang holistik, memunculkan cara baru dalam menyebarkan risalah Islam.

Pranata keagamaan berusaha merubah pola dan pemikiran golongan tua dalam melaksanakan dakwah Islam. Ketiga, adanya organisasi keagamaan. Kristalisasi kehadiran ulama pemikirdan kesadaran pranata keagamaan diwujudkan dalam bentuk organisasi keagamaan modern yang melakukan dakwah lebih terstruktur dan terlembagakan (Takashi Shiraishi, 2009).

Demokrasi Indonesia sebagaimana diindikasikan oleh Bubandt (2014) memang selalu mengandung kontradiksi yang dibalut berbagai ironi dan paradoks. Demokrasi Indonesia menurutnya justru dicapai melalui praktik-praktik non demokratis yang keduanya saling mereproduksi. Selama musim kampanye kita menyaksikan berbagai cara tidak demokratis ditampilkan oleh kedua kubu dalam bentuk politik uang, intimidasi dan politik identitas (Imam Subkhan, detik.com edisi 27 April 2017).

Deliberasi Politik dan cikal bakal Solidaritas  Sosial
Ibnu Khaldun dalam Opus Magnumnya (Muqadimah) mengatakan bahwa unsur penentu terwujudnya  sebuah negara  yang  berdaulat  adalah solidaritas  yang  muncul dari para penghuninya. Bermula dari sebuah kelompok kecil dengan sistem agitasi dan propagandanya,  kelompok kecil tersebut  menghimpun  solidaritas  atau gerakan ashobiyah di dalamnya guna mewujudkan satu kedaulatan bersama kelompok lainnya menuju negara yang dicita-citakan. Solidaritas sosial dan rasa primordial terhadap kelompok yang di huni menjadi modal dalam membentuk kedaulatan negara. Secara lajursejarah, negara terbentuk atas unsurbadawi dan madani. Gerakan badawiah ini dipelopori  oleh  kelompok-kelompok  kecil  yang  saling  berperang  melancarkan propaganda dan aksinya untuk satu sama lain saling menguasai. Badawi ini biasanya gerakan kampung atau kabilah-kabilah yang mempunyai primordialisme dan kepentingannya. Proses lanjut gerakan badawi ini ialah madani. Gerakan madani merupakan harakat kedaulatan yang berusaha menghimpun  kepentingan-kepentingan setiap kabilah dengan strategi dan rencana bijak. Namun, seiring  berjalannya lajur sejarah, secara natural gerakan badawi dan madani ini kala mewujud menjadi sebuah negara yang dicita-citakan akan hancurbila solidaritas tidak terjaga atau munculnya pemimpin tiran yang merasa berkuasa penuh atas negara yang dipimpinnya. Lantas Khaldun memberikan jaminan bahwa  setiap negara  yang  dihuni  dengan nuansa creative minority akan menjadi negara yang maju dan berdaulat. Kecil atau besarnya sebuah kelompok yang terhimpun bila tidak memiliki rasa solidaritas, ashobiyah dan creative minority maka akan jatuh dan hancur menjadi mamlakah Shogir atau negara- negara  kecil yang  pada  akhirnya  memilih  perang  sebagai jalan penyelesaian.

Untuk mewujudkan satu negara yang stabil dengan pemerataan tugas dan wewenang di dalamnya, tentunya tidak serta merta dilakukan secara natural. Mengalir ibarat air. Tapi, perlu semacam aluryang dapat mengharmoniskan setiap kebijakan dan wewenang yang berbeda, sehingga tidak keluardari misi awal negara tersebut.

Yakni perwujudan masyarakat madani yang memiliki kedaulatan, keadilan dan harmonis secara sosial. Artinya, perlu semacam dialog aktif atau komunikasi. Proses komunikasi dalam sebuah masyarakat, yakni antara pemimpin terhadap bawahannya, dalam bahasa Habermas dikenal dengan Deliberasi Politik. Deliberasi Politik mengandaikan sebuah masyarakat komunikatif yang di topang oleh rasionalitas gerakan dan pemikiran, bagaimana sebuah gejala di tilik secara ilmiah untuk mencapai satu rekayasa sosial yang dicetuskan. Deliberasi politik juga mengandaikan seorang pemimpin yang mau turun ke lapangan, mendengarsetiap keluhan bawahannya, dan menyejajarkan dirinya sebagai seorang rakyat bisa. Ibarat satu tubuh yang saling merasakan kesenangan dan penderitaan satu sama lain. Agaknya, dalam sebuah negara yang menganut Trias Politica, deliberasi politik sebagai sebuah dialog aktif sangatlah penting guna mencapai cita-cita yang diinginkan oleh setiap elemen negara tersebut. Deliberasi politik pula yang pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alat untuk menjaga solidaritas sosial masyarakat dan menghimpun kedaulatan di antara para pemegang amanah konstitusi. Sehingga, dengan dialog seperti ini kita dapat menghindari satu studi dan pelaksanaan konsepsi politik warung kopi. (DAF/L)

Pustaka Acuan
  1.  Andreas Hepp, Stig Hjarvard and Knut Lubby. 2010. Mediatization Emphirical Pers pective: an introduction to a special issue. Communication J ournal, DOI 10. 11/ COMM. 2010. 012. Walter De Guyter.
  2. Armahedi Mazhar. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Bandung : Mizan. Bryan, J ennings, & Thompson, Susan .(2002). Fundamentals of Media Effects
  3. Bryant, J ennings, dan Dolf Zilmann, Media Effect, LEA Publisher, New J ersey, 2002.
  4. Dominick R., J oseph. 1998. The Dynamics of Mass Communication, Sixth Edition, McGraw-Hill College.
  5. Douglas Kellner. 2010. Budaya Media. Yogyakarta : J alasutra.
  6. Eryanto. 2004. Analisis Wacana. Yogyakarta : LKis.
  7. Hudjolly. 2011. Imagologi Strategi Rekayasa Teks. J akarta : Ar-ruzz Media.
  8. M.Amien Rais. Cakrawala Islam. Bandung : Mizan. Hal. 110.
  9. Moch. Fakhruroji. 2011. Islam Digital. Bandung : Sajjad Publishing
  10.  Stig Hjarvard. 2006. The Mediatization on Religion, a Theory of a media as an agent of Religious change. A paperpresented to the 5th International Conference on Media, Religion and Culture: Mediating Religion in the Context of Multicultural Tension
  11. The Sigtuna Foundation, Stockholm/ Sigtuna/ Uppsala, Sweden, 6-9 J uly, 2006.
  12. Presentation by Friedrich Krotz. Mobile Communication, the Internet and the Net of Social Relations. University of Erfurt, Germany
  13. Takashi Shiraishi. 2009. Zaman Bergerak.
  14.  Yasraf Amir Pilliang. 2009. Bayang-bayang Tuhan. Bandung : Mizan.

1 comment:

  1. Artikel yang bermanfaat,sukses selalu yah orangnya atau blognya..
    Kalo ada waktu mampir dong keblog ku saya baru buat artikel tentang Prestasi Jokowi Selama ini Yang Wajib Di Ketahui

    ReplyDelete